4 Desember 2023

Beliruma – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan generasi milenial semakin sulit memiliki rumah atau hunian karena kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pendapatan mereka. Harga properti semakin tinggi, per tahun bisa mencapai kenaikan enam persen.

Sementara perubahan pendapatan milenial tak sampai 3 persen. Bahkan, pendapatan mereka bisa menyusut akibat gaya hidup yang dinilai sebagai salah satu biang keladi sulitnya milenial punya rumah. Kondisi ini menyebabkan properti kian jauh dari jangkauan milenial. Akibatnya, pada 2019 saja menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), ada sekitar 81 juta milenial yang belum memiliki rumah.

Namun demikian, sebetulnya milenial bisa memiliki rumah asalkan menerapkan sejumlah strategi perencanaan keuangan yang sesuai.

Founder PT Daya Uang Indonesia Tangguh Lolita Setyawati mengatakan, strategi perencanaan keuangan secara matang yang bisa dilakukan milenial adalah mengatur cash flow, berusaha mengalokasikan sebagian penghasilan mereka untuk tabungan uang muka atau down payment (DP).

“Merencanakan keuangan adalah salah satu cara termudah untuk bisa memiliki rumah, apalagi harga properti tiap tahun mengalami kenaikan yang relatif tinggi,” ujar Lolita dalam diskusi “Kelola Rencana Keuangan Ala Milenial Miliki Properti,” yang digelar di marketing gallery Synthesis Huis, seperti dilanisr dari Kompas.com Kamis (29/9/2022).

Menurut Lolita, hal pertama yang harus dilakukan milenial adalah mengubah mind set, dan berfikir visioner untuk membeli rumah. Mereka harus fokus mencapai target. Semua harus terencana dengan baik, ada porsi keuangan yang bisa dikeluarkan untuk keperluan saat ini dan mematangkan pula rencana keuangan untuk masa depan. 

Semakin besar penghasilan, tentunya porsi tabungan untuk investasi lebih besar. Ada baiknya fokus ingin punya rumah seperti apa, lokasinya di mana, dan harga sesuai kemampuan. “Upayakan menabung untuk DP jika ingin membeli rumah secara KPR. Saran saya, milenial harus melek investasi di instrumen yang menghasilkan lebih tinggi dari kenaikan harga properti pertahun yaitu 6 persen,” imbuh Lolita.

Ada rumus dasar untuk milenial agar dapat membeli rumah dengan harga yang sesuai dengan cara mengukur penghasilannya. Rumus dasar tersebut adalah dengan menghitung 5 kali penghasilan tahunan dengan batasan maksimal harga rumah.

Contoh berikut adalah untuk milenial dengan penghasilan tanggung yang tidak termasuk dalam kategori sasaran subsidi Pemerintah. Jika penghasilan per bulan Rp 10 juta, maka harga rumah yang bisa dibeli milenial sebesar Rp 650 juta (Rp 10 juta x 13 bulan x 5).

Jika milenial ingin membeli rumah dengan memanfaatkan fasilitas KPR, Lolita menyarankan untuk memperbesar porsi pembayaran DP. Karena semakin besar porsi DP yang dibayarkan, cicilan bulanan akan semakin ringan. Contoh, DP 30 persen dari harga rumah yang dapat dibeli milenial Rp 650 juta sama dengan Rp 195 juta. Sementara cicilan KPR maksimal harus 30 persen dari penghasilan bulanan, yakni 30 persen dikali Rp 10 juta adalah Rp 3 juta. Porsi 30 persen cicilan KPR adalah alokasi anggaran milenial yang terhitung ideal.

Milenial masih bisa mengalokasikan anggaran lainnya untuk tabungan atau investasi sebesar 15 persen (Rp 1,5 juta), kebutuhan hidup 40 persen (Rp 4 juta), dan keinginan 15 persen (Rp 1,5 juta). Bagaimana untuk dapat melakukan itu semua? Lolita membeberkan kuncinya, pertama sisihkan sebanyak-banyaknya dari penghasilan bulanan. Kedua, simpan dana yang disisihkan itu pada produk investasi yang relatif stabil.

Ketiga top up tabungan dari pendapatan non-bulanan. Keempat, lakukan secara konsisten untuk mencapai target “Membeli rumah itu jodoh, jangan asal beli. Manfaatkan program pembiayaan KPR. Bandingkan KPR sesuai jenis suku bunga (flat vs floating). Jangan lupa siapkan sekitar 10 persen dari harga rumah untuk biaya-biaya lainnya,” tuntas Lolita.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *